Membongkar Borok RSUD Praya (Bagian 4)
LOMBOK TENGAH – Tatakelola RSUD Praya semakin tak terarah bahkan cenderung berantakan. Dokter Mamang yang dipercaya memimpin scuad tempur dan dianggap mampu membenahi RSUD Praya, tampak tak berdaya.
Pengalaman Dokter Mamang dinilai tidak mampu mengimbangi kecerdikan bawahanya yang rata-rata bergelar sarjana itu. Banyak pihak yang menganggap Dokter Mamang selama ini hanya Direktur Boneka. Kata-katanya diduga tidak lagi didengar. Bahkan beberapa bawahannya selalu melawan perintah.
” Saya kasihan sama pak Mamang. Dia itu banyak dibohongi bawahannya,” kata salah seorang sumber yang tidak mau ditulis namanya.
Sepeninggal Dokter Langkir yang sekarang entah bagaimana kabarnya, persoalan di RSUD justeru semakin terpuruk.
Penurunan kinerja RSUD Praya bisa dilihat dari beban atau jumlah hutang saat ini. Hutang Rp 40 Milyar yang ditinggalkan mantan Dirut berkepala botak beberapa tahun lalu bukannya berkurang tapi justeru kini bertambah menjadi Rp 50 Milyar.
Celakanya, di tengah kondisi RSUD yang memprihatinkan, gaji dan honor pengawas RSUD Praya tidak pernah telat.
Jika gaji guru honorer sering telat bahkan sampai demo ke kantor bupati, “amplop” gaji Sekda dan dewan pengawas lainnya diduga rutin diantar oleh “kurir” ke ruangan kerjanya.
Pertanyaan masyarakat saat ini adalah, kapan RSUD Praya benar-benar baik dan apakah tidak ada orang selain Dokter Mamang yang mampu memimpin RSUD Praya. Ataukah memang ada faktor lain sehingga pemetintah daerah begitu ngotot mempertahankan
Dokter Mamang sebagai Dirut RSUD Praya? (Bersambung)






