‎Gaya Hidup Hingga Selisih Jatah Pimpinan dan Anggota yang Terlalu Besar Bisa Merubah Karakter Dewan di Lombok Tengah Jadi Penipu

LOMBOK TENGAH –  Kasus dugaan jual beli proyek yang melibatkan oknum anggota dewan  Lombok Tengah NR  saat ini membuat publik bertanya apa gerangan yang membuat  wakil rakyat tersebut berani berbuat nekat.

Padahal gaji yang diterima kalau tidak menggadaikan SK mencapai puluhan juta setiap bulan. Belum lagi uang saku kunjungan kerja, reses dan sumber lain yang jumlahnya sangat cukup.

Sejumlah pengamat perpokiran di Lombok Tengah berpendapat bahwa tidakan nekat anggota anggota dewan  bisa  dipicu banyak faktor.

Penyebab pertama adalah gaya hidup. Sebelum dilantik, para penghuni gedung Jontlak tersebut memiliki  latarbelakang  beragam.  Dari  pengusaha, tukang demo sampai buruh tani. Dari yang dasarnya kaya dan hidup glamor sampai yang  kere, sekarang ngantor di gedung tersebut.

Dewan yang dulunya hidup mewah,  ibarat permainan Qyu memiliki dasar angka sembilan, sudah pasti akan mempertahankan stile dan kebiasaan mereka yang penuh kemewahan.

Mereka yang tadinya kere dan hidup pas pasan bahkan mungkin sering beli rokok surya bijian,  pun tidak mau kalah saing.

Mereka yang  sebelumnya mungkin  terbiasa pakai baju rombengan, sekarang bisa jadi gatal bersentuhan dengan barang murah.  Belum lagi urusan  kendaraan.  Dulu mungkin mereka biasa pakai mobil odong odong atau bahkan motor ronsokan, kemungkinan sekarang   gerah kalau berkendara tidak pakai AC.

Padahal di luar itu  mereka terkadang masih  banyak beban.  Hutang Pileg yang belum lunas. Belum lagi perminaan konstituent yang datang silih berganti membuat mereka terkadang pusing.

‎Gaya hidup dan berbagai tuntutan tersebut pun kemudian bisa  menjadi jebakan atau  “labirin” mematikan bagi para anggota dewan.  Begitu masuk, mereka akan sangat sulit keluar bahkan bisa mati di dalamnya.

‎Sementara itu dana Pokir yang mereka harapkan untuk memenuhi kebutuhan  khususnya anggota, sangat-sangat terbatas.

‎Informasi yang berhasil dihimpun kabarlombok.id, masing masing anggota dewan Lombok Tengah hanya menerima dana Pokir tidak lebih dari satu milyar setiap tahun.  Sementara gaji mereka terkadang sudah dipotong bank. Karena bukan rahasia lagi,  sebagian besar anggota dewan  Lombok Tengah saat dilantik kebanyakan kalau istilah bahasa Sasak  “ngijon”  alias berhutang di bank dengan menggadaikan SK mereka. Amplop gaji yang mereka terima pun menjadi tipis bahkan mungkin hanya cukup sekedar buat rokok dan bensin sebulan.

‎Untuk gaya  dan memenuhi kebutuhan lainnya, berbagai cara dilakukan. Yang penting dapat uang apapun itu “sikat”.

Pokir yang seharusnya tidak boleh diperjual belikan pun terkadang diobral. Bahkan uang  fee  jatah Pokir setahun berikutnya pun, terkadang bisa saja sudah diambil duluan.

Mereka yang tidak bisa mengontrol diri bisa saja merubah mereka menjadi penipu dan melakukan berbagai tindakan  melawan hukum lainnya.

Kondisi tersebut kata para pengamat berbanding terbalik dengan mereka  yang duduk di kursi pimpinan.

‎Kalau anggota biasa dapat Pokir satu sampai dua milyar, empat pimpinan DPRD Lombok Tengah, masing-masing konon bisa tembus puluhan milyar per tahun.  Di saat anggota putar otak cari tambahan, mereka diduga hidup serba berkecukupan.

Besarnya perbedaan atau selisih Pokir tersebut pun selalu menjadi bahan gibah di internal dewan. Banyak anggota mengeluh, tapi hanya sebatas mengeluh dalam hati. Tidak ada yang berani bersuara apalagi menentang kebijakan tersebut.

‎” Pimpinan ini terlalu gemuk. Sementara kami anggota biasa, dikasi ala kadarnya saja. Tapi dek, jangan cerita kalau saya mengeluh ya,” ungkap salah seorang dewan yang sangat takut disebut namanya.

‎Untuk itu, dia dan beberapa anggota lain sangat berharap kedepan pembagian Pokir sedikit lebih adil. Sehingga kedepan tidak ada lagi anggota dewan yang terlibat  jual beli Pokir atau  kasus hukum lainnya. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.