Anggota DPRD Lombok Tengah, mulai “Bernyanyi”. Pembagian Kue yang dirasa sangat tidak adil bahkan membuat beberapa diantara mereka mulai merencanakan “Makar” dengan membongkar borok yang selama ini tersimpan rapi.
DARWIS PUTRA JAGAT – LOMBOK TENGAH
SEBUT saja namanya Bento, salah seorang anggota DPRD Lombok Tengah. Di pagi hari Minggu yang begitu cerah Bang Bento bangun lebih awal dari biasanya. Jam 5.00 Wita, Bento sudah mengambil air wudhu.
Setelah selesai sholat, dewan yang gemar karaokean itu bergegas ke dapur untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Namun saat akan mentantap makanan yang dihidangkan Ibu negara, Bento dikagetkan dengan bunyi berisik dari dalam kamarnya. Terdengar nada dering HP nya yakni lagu Band Jamrud berjudul Surti dan Tejo begitu keras sampai membuatnya kaget.
Bento yang penasaran langsung bergegas ke kamar dan meninggalkan makanan di meja makan. Setelah diangkat, dari balik sambungan HP terdengar suara yang begitu sopan. Orang itu Timan yang tidak lain adalah mantan Tim Suksesnya. Tanpa paniang kalam, si Timan Langsung blak blakan menyampaikan maksudnya. Kepada Bang Bento, si Timan dengan nada sedih meminta sumbangan semen untuk pembangunan musholla di kampungnya.
” Bang, lamun arak tunas semen sekedar jari sikt pelester Muholla. Salam warge pelnggih ye kengen melet lalok telaik,” kata Timan.
Bento yang memang dikenal jor joran tapi sombong jeleng tanpa pikir panjang langsung mengiayakan. Tapi ternyata di dalam hatinya, si Bento ngedumel. Namun apa boleh buat, janji sudah diucapkan, kata iya sudah didengar.
Bang Bento pun mulai putar otak. Masing-masing kontak di HP nya dicek. Siapa tahu ada yang bisa diminta bantu. Setelah mencari sekitar satu jam, Bang Bento akhirnya menempel HP di telinganya. Ia menelpon Mawardi, salah seorang bos toko bangunan yang terkenal sering ngutangin orang. Tanpa basa basi Bang Bento langsung tancap gas. ” Utang semen 50 sak juluk genk, lemak gajian berekengan. Siap 86 pak dewanku,” jawab Mawardi.
Selang beberapa menit, Bang Bento kembali menerima telpon. Kali ini sumbangan balap karung remaja. Karena pusing, Bang Bento akhirnya berbohong dan mengatakan bahwa dirinya sedang di pesawat mau ke Jakarta ketemu Menteri pemberdayaan perempuan.
Dering telpon pagi itu pun seketika membuat mood Bang Bento, rusak. Tidak hanya nafsu makannya yang hilang, nafsu birahi Bang Bento juga ikut ngedrop. Si “Boy” yang tadinya keras setelah terpapar dinginnya pagi, mendadak loyo. Padahal sebelum makan Bento sudah minum obat kuat cap urat madu sambil nonton film yang tidak tidak atau film biru. Namun efek obat kuat dan film berdosa itu kalah dengan semen.
Tidak tahan dengan tekanan batin, Bang Bento pun memilih curhat ke wartawan. Bento bercerita bahwa dirinya sudah tidak tahan dengan banyaknya permintaan sumbangan dari masyarakat. Ia pun menceritakan bahwa sebagian besar gajinya sudah dipotong Bank. Sementara dana aspirasi atau Pokir yang diharapkan, tidak seberapa.
Bento menuturkan, kondisi seperti ini dialami hampir seluruh anggota DPRD Lombok Tengah. Ia menyebut rata-rata anggota dewan “kurus kering”.
Sembari menghisap rokok Conext, Bento pun mulai membandingkan nasi dirinya dengan empat unsur pimpinan DPRD Lombok Tengah yang sebaliknya semakin ” gemuk” dengan jatah Pokir yang diduga berkali lipat jauh lebih besar bahkan sangat jauh ketimpangannya dari anggota biasa.
Ia membeberkan, anggota biasa hanya menerima Pokir Rp 1 milyar. Sedangkan para Pimpinan masing-masing diduga bisa tembus belasan milyar per tahun.
Pembagian jatah yang sangat tidak adil itu lanjut Bento, sebenarnya juga dikeluhkan sebagian besar anggota. Sayangnya tidak ada satupun yang berani buka mulut. Akibatnya keluhan ini pun hanya sampai di tataran gibah.
Kedepan, pihaknya pun mengajak anggota dewan lain memberontak. Paling tidak kata Bento, selisihnya tidak terlalu kebangetan seperti sekarang ini. (Bersambung)





