LOMBOK TENGAH – Alokasi dana hibah Pemda Lombok Tengah tahun 2026, jadi sorotan banyak kalangan. Dana hibah tahun ini yang diperuntukkan sejumlah organisasi termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mencapai Rp 6 milyar lebih.
Mirisnya, di saat organisasi organisasi tersebut pesta pora dengan anggaran yang begitu besar, P3K paruh waktu masih menjerit. Dengan gaji yang hanya Rp 400 hingga 500 ribu per bulan, membuat hidup para mereka serba kekurangan.
Beberapa yang dimintai keterangan mengaku sedih dengan kondisi mereka. Bahkan beberapa diantara mereka mengaku harus berhutang kesana kemari untuk sekedar mencukupi keperluan sehari hari.
Sehingga mereka berpendapat bahwa pemberian dana hibah ke organisasi-organisasi kemasyarakatan saat ini, sangat tidak adil. Pemkab Lombok Tengah bahkan dituding tidak peka dengan penderitaan para honorer dan lebih mementingkan organisasi yang dinilai kontribusinya tidak lebih besar dari P3K paruh waktu .
Sementara itu beberapa pegiat LSM juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap persoalan tersebut. Mereka berpendapat, jika saja dana milyaran rupiah tersebut diberikan kepada pegawai paruh waktu, setidaknya bisa menambah penghasilan bulanan mereka menjadi lebih layak. Tidak seperti penghasilan saat ini yang dinilai tidak ubahnya seperti upah kerja paksa di zaman kolonial yang tidak manusiawi.
” Saweran dana hibah ini sangat tidak manusiawi. Ya kita bisa nilai dan melihat sendiri lah seperti apa perhatian Pemkab Lombok Tengah kepada tenaga paruh waktu, masih sangat minim,” kata salah seorang pegiat LSM yang enggan dipublikasikan namanya.
Ia pun mengajak para pegawai paruh waktu untuk kembali turun ke jalan dan melakukan aksi perlawanan terhadap kebijakan Pembakab Lombok Tengah yang dinilai sangat tidak adil tersebut.
Sementara itu Sekda Lombok Tengah, HL.Firman Wijaya yang dikonfirmasi belum memberikan jawaban apapun terkait alokasi dana hibah tersebut. (Dar)




